Daerah

Kepala SPI Pusat: Saking Terbiasanya dengan Islam, Umat Sering Lupa Merasakan “Lezatnya” Tauhid

BANDUNG, SUARA ISLAM INDONESIA – Umat Islam kerap kali menganggap keberadaan konsep tauhid sebagai hal yang biasa (take it for granted). Akibatnya, ketika dihadapkan pada konsep ketuhanan lain, mereka mudah terperangah tanpa menyadari keunggulan hakiki tauhid yang telah melekat sejak kecil.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Pusat, Dr. Akmal Sjafril, dalam pertemuan kelima SPI Bandung Angkatan ke-12 yang bertemakan “Tauhidullah”. Kajian yang digelar di Masjid Istiqamah, Bandung, pada Kamis (8/10/2026) ini mengajak para murid SPI untuk kembali menelisik inti worldview (pandangan hidup) Islam yang memengaruhi cara manusia memahami realitas.

“Saking terbiasanya kita dengan Islam, sampai nggak merasakan lezatnya tauhid. Ketika ada konsep Tuhan yang lain, langsung terperangah,” ujar doktor ilmu sejarah tersebut dalam keterangannya.

Kontras Tauhid dengan Mitologi Yunani
Dalam penjelasannya, Dr. Akmal mengajak peserta membandingkan kemurnian tauhid dengan konsep ketuhanan dalam mitologi Yunani, khususnya sosok Zeus. Meski digambarkan sebagai dewa terkuat, Zeus tetap memiliki keterbatasan dan sisi gelap yang sangat manusiawi. Dalam mitologi tersebut, Zeus dikisahkan menelan istrinya sendiri karena ketakutan anaknya akan menandingi kekuatannya, melakukan tindakan asusila terhadap saudara perempuannya, hingga memiliki kekasih laki-laki berusia remaja.

Menurut Dr. Akmal, munculnya pertanyaan kritis para filsuf Yunani terhadap para dewa bukanlah murni lahir dari sikap kritis yang sehat, melainkan akibat krisis kepercayaan di masyarakat saat itu. “Masa sih, dewa kayak manusia?” ujarnya menirukan kegelisahan para filsuf terhadap sosok dewa yang justru dikuasai ketakutan dan hawa nafsu.

Krisis terhadap mitologi yang diwariskan inilah yang menjadi konteks berkembangnya filsafat Yunani dalam mencari penjelasan tentang Tuhan yang lebih masuk akal. Bagi seorang Muslim, memahami konteks sejarah ini sangat krusial. Pencarian para filsuf Barat berangkat dari konsep ketuhanan yang bermasalah, sedangkan tauhid Islam telah mengenalkan Allah bukan sekadar sebagai “Tuhan yang paling kuat” di antara tuhan-tuhan lain, melainkan sebagai satu-satunya Ilah Yang Maha Kuasa, tanpa kelemahan dan batasan apa pun.

“Dengan memahami konteks sejarah tersebut, seorang Muslim tidak akan mudah terperangah oleh pemikiran Yunani seolah-olah Islam belum memiliki jawaban mengenai Tuhan,” tegasnya.

Kritik atas Pendidikan Agama yang Sekadar Hukum
Dr. Akmal juga menyoroti bahwa kesalahan memahami ketuhanan tidak hanya terjadi di luar Islam, tetapi juga mengintai kalangan Muslim sendiri. Ia menilai, pembelajaran agama yang terlalu dominan menekankan aspek hukum dan kewajiban berisiko membuat tauhid hanya dipahami sebatas kumpulan aturan kering.

Ia memberikan contoh nyata pada anaknya sendiri, yang lebih mengingat pelajaran zakat sebagai rumus perhitungan matematis yang sulit dihafalkan, alih-alih memahami alasan dan esensi spiritual di balik perintah berzakat. Oleh karena itu, pendidikan agama dan dakwah harus menanamkan pemahaman yang benar dan mendalam tentang Allah, agar agama tidak hanya dipandang sebagai beban kewajiban yang harus dikerjakan atau ditinggalkan.

Refleksi Murid SPI: Kembali kepada Al-Qur’an
Materi kajian ini memberikan dampak reflektif yang mendalam bagi para peserta. Fadhila Ammarie, salah satu murid SPI Bandung, menyadari pentingnya tidak mudah terpesona oleh pemikiran “baru” yang beredar di masyarakat.

“Ketika ada pemahaman-pemahaman ‘baru’ di sekitar kita, kita gampang amazed tanpa tahu akarnya bagaimana. Benar kata Ustaz, karena kita sudah terlalu terbiasa dengan tauhid, kita menganggapnya biasa saja. Pertemuan ini mengingatkan saya untuk kembali mempelajari Al-Qur’an secara lebih mendalam,” ujarnya.

Senada dengan Fadhila, murid SPI lainnya, Miftahul Hidayah, menyoroti perubahan perspektifnya dalam menghadapi ujian hidup. Menurutnya, pemahaman tauhid yang benar mengubah rasa sakit menjadi pelajaran berharga.

“Semakin memahami tauhid, semakin aku terpesona dengan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Mengenal Allah tidak membuat kesulitan terasa menyakitkan, tetapi membantuku melihat hikmah, pembentukan diri, dan ketangguhan di baliknya. Semoga semakin mengenal Allah, kita semakin mampu memaknai kehidupan dan belajar bersandar kepada-Nya dalam setiap keadaan,” pungkas Miftah.

Kajian SPI Bandung ini menjadi pengingat penting bagi umat Islam di era modern untuk tidak hanya menjalankan syariat secara kulit, tetapi juga meresapi kedalaman dan keindahan tauhid sebagai fondasi utama pandangan hidup seorang Muslim.(H.Akbar)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button