
BOJONEGORO, SUARA ISLAM INDONESIA – Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Matin Djawahir, menyerukan kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat benteng diri terhadap arus narasi negatif serta fitnah yang marak beredar di media sosial.
Imbauan ini disampaikan untuk membentengi umat dari konten-konten provokatif yang sengaja dirancang untuk mendiskreditkan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
Hal tersebut ditegaskan Kiai Matin dalam Pengajian Umum Peringatan Hari Santri sekaligus Rutinan Majelis Taklim Fatayat-Muslimat NU di halaman Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Ahad (18/10/2026).
Di hadapan ratusan jamaah, Kiai Matin memberikan arahan praktis dalam menyikapi gempuran informasi di era digital.
“Kalau melihat WhatsApp, kalau melihat YouTube, ada orang yang menjelek-jelekkan NU, kalian tutup saja,” tegas Kiai Matin dengan nada yang mengajak sekaligus tegas.
Beliau mengingatkan agar umat tidak mudah terkecoh atau terpancing emosi oleh narasi provokatif. Menurut pengasuh pesantren tersebut, konten-konten semacam itu bukanlah kritik yang membangun, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk melemahkan sendi-sendi organisasi dan mengikis kepercayaan masyarakat.
“Tujuannya ya agar NU bubar, agar NU ringkih, agar NU tidak lagi dipercaya masyarakat. Ini tujuannya,” lanjutnya.
Lebih jauh, Kiai Matin menenangkan jamaah dengan meninjau perspektif sejarah. Ia menegaskan bahwa upaya menjatuhkan, merundung, hingga mengadu domba (devide et impera) warga NU bukanlah hal baru dalam sejarah panjang perjuangan para ulama di Nusantara.
Berbagai macam fitnah, tekanan, dan upaya penghancuran telah berulang kali terjadi sejak masa kemerdekaan hingga kini. Namun, dengan kekuatan iman, persatuan, dan izin Allah SWT, Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah tetap kokoh berdiri dan bertahan hingga saat ini.
Menyikapi hal tersebut, kalangan pengamat dan tokoh umat menilai imbauan ini sangat relevan di tengah gempuran perang opini di media sosial. Umat Islam, khususnya Nahdliyin, diminta untuk senantiasa memperkuat ukhuwah islamiyah, mengedepankan prinsip tabayyun (cek dan ricek) terhadap setiap informasi, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang bertujuan memecah belah persatuan umat.
Dengan menutup pintu terhadap fitnah dan fokus pada penguatan dakwah serta pengabdian, NU diharapkan terus menjadi benteng moderasi Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah dinamika bangsa.(H.Akbar)



