Antara Kritik dan Laporan ABS
Oleh : Dedy Nurhadi, S.S.
Part 1
Pola kepemimpinan saat ini lebih cenderung menyukai bawahan ABS alias laporan Asal Bapak Senang. Padahal laporan ABS ini sangat berbahaya, karena dapat melenakan pimpinan, dapat membuat pemimpin lalai karena tidak bisa melihat berbagai permasalahan secara nyata dan yang sebenarnya.
Mungkinkah itu yang sedang dialami oleh Presiden Prabowo?, sebab Presiden Prabowo saat ini terlihat asyik mempromosikan dan menjalankan program boros anggaran tetapi minim produktifitas seperti MBG, Kopdes Merah Putih, Sekolah rakyat, universitas Republik Indonesia serta kabinet yang terlalu gemuk.
Pertanyaan nya, apakah Presiden Prabowo tidak mengetahui kondisi saat ini kehidupan rakyat sedang sulit?. Kondisi saat ini , rakyat sedang sulit, indikasinya adalah angka pengangguran tinggi, nilai tukar rupiah tinggi sehingga berefek barang-barang jadi mahal dan rakyat tidak mampu beli, banyak perusahaan bangkrut, investor kabur ke Negara lain yg iklim investasi nya aman dan kondusif, penerimaan pajak menurun sedangkan hutang negara bertambah banyak, PHK terjadi di mana-mana, dll.
Kehidupan rakyat semakkin sulit karena jenis pajak bertambah, sementara anggaran bantuan sosial dari pemerintah tidak kunjung datang, sehingga uang yang berputar di bawah semakkin langka dan membuat ekonomi semakin terpuruk. Jadi saat ini yang hidup aman dan terbebas dari kesultan hanyaah segelintir pihak saja, diantara nya adalah elit, oligarki, pejabat pemerintah , anggota DPR, elit tentara, elit kepolisian, dan PNS yg eselon atas. Sementara Rakyat kecil semakkin sulit sampai-sampai mereka membatasi makan agar survive dalam hidup.
Semua itu bisa terjadi akibat pejabat dan Presiden tidak peka dan tidak jeli dalam melihat permasalahan dan tidak mengerti solusinya apa?. Saya menduga Selaku Presiden Negara ini, prabowo tidak main medsos untuk mengintip kehidupan rakyat, lalu hanya menerima laporan dari para bawahan yang hobi nya bikin Laporan Asal Bapak Senang. Apabila diperhatikan selaku Presiden , Prabowo tergolong sering menerima Laporan ABS sehingga ketika pidato maupun mengeluarkan kebijakan, sebagian besar kecewa karena tidak mewakili keinginan publik, tapi lebih seperti keinginan elit.