Menjaga Hati di Era Serba Cepat: Seni Melatih Qana’ah dan Thuma’ninah
Qana'ah: Kunci Kekayaan Hakiki

Suara Islam Indonesia – Dalam riak kehidupan modern yang serba cepat, manusia sering kali terjebak dalam perlombaan yang tak ada garis finishnya. Standardisasi kebahagiaan kerap diukur dari apa yang tampak di layar media sosial: karier yang melejit, kemewahan material, hingga pengakuan publik. Tanpa disadari, pencarian tanpa henti ini kerap menyisakan dahaga spiritual dan jiwa yang lelah.
Islam, sebagai dinul fitrah (agama yang menyelaraskan dengan fitrah manusia), menawarkan penawar mujarab melalui dua konsep luhur: Qana’ah (merasa cukup) dan Thuma’ninah (ketenangan jiwa).
1. Qana’ah: Kunci Kekayaan Hakiki
Secara bahasa, Qana’ah berarti menerima atau merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Banyak yang salah mengartikan qana’ah sebagai sikap pasrah tanpa usaha atau kemalasan. Padahal, qana’ah adalah kondisi mental setelah seseorang berikhtiar secara maksimal.
Rasulullah $\text{SAW}$ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang memiliki sifat qana’ah membentengi dirinya dari penyakit iri hati (hasad) dan keserakahan (thama’). Ia paham betul bahwa rezeki setiap hamba telah terukur dengan presisi oleh Allah $\text{SWT}$, dan tugas manusia hanyalah berikhtiar dengan cara yang halal.
2. Thuma’ninah: Menemukan Ketenteraman di Tengah Badai
Jika qana’ah adalah cara pandang terhadap materi, maka thuma’ninah adalah muara dari kedamaian batin. Seseorang yang meraih thuma’ninah tidak akan mudah goyah oleh ujian, krisis, maupun ketidakpastian masa depan.
Bagaimana cara mendapatkan ketenangan jiwa ini? Al-Qur’an memberikan petunjuk yang sangat eksplisit:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d [13]: 28)
Zikir dalam ayat ini tidak hanya dimaknai sebagai ucapan lisan (tasbih, tahmid, tahlil), tetapi juga mencakup kesadaran penuh (mindfulness) akan kehadiran Allah dalam setiap helaan napas dan keputusan hidup.
Langkah Praktis Menjaga Ketenangan Hati
Untuk membumikan kedua nilai luhur ini dalam kehidupan sehari-hari, beberapa langkah sederhana berikut dapat diterapkan:
-
Melihat ke Bawah dalam Urusan Dunia: Rasulullah mengajarkan agar dalam urusan materi kita melihat orang yang berada di bawah kita, agar kita senantiasa bersyukur dan tidak menganggap remeh nikmat Allah.
-
Melihat ke Atas dalam Urusan Akhirat: Dalam hal ibadah, kebaikan, dan ilmu, hendaknya kita meneladani orang-orang yang lebih saleh agar timbul semangat untuk terus bertumbuh.
-
Menjaga Kualitas Shalat: Shalat bukan sekadar penggugur kewajiban, melainkan sarana istirahat dan dialog intim antara hamba dengan Penciptanya.
-
Membatasi “Kebisingan” Luar: Kurangi konsumsi informasi atau interaksi digital yang hanya memicu perbandingan diri (fear of missing out) dan rasa cemas berlebih.
Penutup
Dunia ini dirancang sebagai tempat ujian, bukan muara keabadian. Menjaraki hati dari keterikatan duniawi yang berlebihan bukanlah bentuk pelarian, melainkan strategi cerdas agar langkah kita terasa ringan menuju akhirat.
Dengan melatih qana’ah dan menyirami jiwa lewat zikir, kita tidak hanya menemukan ketenangan di dunia, tetapi juga merintis jalan menuju jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma’innah) saat dipanggil kembali oleh-Nya.